Kebiasaan Buruk Corat-Coret Seragam Sekolah Saat Pengumuman UN.

Kategori : Umum Kamis, 16 April 2015

Kebiasaan corat-coret baju seragam pada saat pengumuman lulus UN atau Ujian Nasional merupakan kebiasaan buruk yang terjadi pada siswa tingkat SMP dan SMA secara turun temurun. Entah kapan dimulainya dan darimana kebiasaan corat-coret seragam tersebut berasal. Sebagian orang mengatakan bahwa fenomena corat-coret baju saat pengumuman lulus adalah sebagai budaya. Tetapi menurut penulis, kebiasaan tersebut bukan merupakan budaya tapi sebagai kebiasaan buruk yang harus ditinggalkan.

Kekhawatiran akan terjadi lagi corat-coret baju seragam sekolah seperti tahun-tahun sebelumnya setelah pengumuman menghantui memang bukan saja guru dan orang tua tapi juga pemerintah. Jelas-jelas kebiasaan itu adalah kebiasaan buruk dilihat dari sisi manapun. Dari sisi agama, itu disebut mubazir karena membuang-buang pakaian yang seharusnya masih bisa dipergunakan. Tidak mungkin baju dan celana yang sudah penuh cat (spidol dan cat semprot pilox) akan dipakai lagi. Biasanya baju itu langsung dibuang begitu saja. Dan tidak mungkin juga untuk dibersihkan lagi.

Sekarang lebih buruknya, bukan hanya saat pengumuman kelulusan ini saja mereka mencoret-coret seragam, malah di beberapa tempat ada yang corat coret baju seragam tersebut pada saat hari terakhir pelaksanaan UN. Rupanya mereka sudah yakin lulus kali ya? Ini benar benar “potret suram dunia pendidikan” ujar sebuah head lines sebuah berita media cetak.

Sekolah sebagai lembaga formal untuk mendidik anak-anak. Di mana di dalamnya di ajarkan berbagai disiplin Ilmu, cara berdisiplin, pembiasaan diri, bertanggung jawab, kerja keras sesuai dengan pendidikan karakter bangsa. Di mana pada tingkat pendidikan anak-anak sampai remaja mendidik karakter yang baik supaya sadar tahu mana yang salah dan mana yang benar yang disertai dengan contoh nyata dalam karakter. Walaupun dalam hal kedisiplinan kita ambil saja satu contoh untuk merapihkan baju seragam kadang-kadang harus dipaksakan dengan teguran. Maka dari itu sebaiknya juga ada pengawsan dari orang tua dan menjelaskan bagaimana buruknya kebiasaan mencoret-coret baju tersebut. Baju seragam yang sebenarnya masih bagus dan layak pakai akan lebih baik untuk diberikan kepada yang membutuhkan. Tidak harus jauh-jauh mencari orang yang mau memakainya. Bahkan di sekolah yang sama saja masih ada para siswa yang secara ekonomi memerlukan uluran tangan dan mau menerima pakaian seragam yang tak akan dipakai lagi itu. Tidak seharusnya baju itu dikotorkan dengan cat atau spidol.

Mungkin di beberapa sekolah --di Tanah Air-- sudah berhasil menghentikan kebiasaan buruk ini. Atau setidak-tidaknya sudah melakukan berbagai langkah dan strategis untuk mengatasinya. Tapi setiap tahun, masih banyak anak-anak kita terlibat kebiasaan jelek ini sehabis pengumuman, itulah tugas lain seorang pendidik selain mengajar dan mendidik selama mereka di sekolah.

Sumber gambar : http://www.tempo.co/read/beritafoto/16969/Aksi-Pelajar-Corat-coret-Seragam-Rayakan-Lulun-UN/3

 

Sosial

Sholat

Kota: Banda Aceh
Lat: 5.53
Lng: 95.32